Senin, 20 September 2010

Kompas- Swalayan wajib pakai plastik 'hijau'

kompas :
Lingkungan
Swalayan Wajib Pakai Plastik "Hijau"
Selasa, 21 September 2010 | 08:54 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Penyelamatan lingkungan, yang kerusakannya sebagai dampak dari gaya hidup masyarakat modern, sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebabnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mewajibkan pengusaha pasar swalayan menggunakan plastik mudah terurai (degradable) sebagai pengganti plastik konvensional.
Pemakaian plastik mudah terurai itu untuk memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus mengurangi volume sampah.
Kepala Dinas Kebersihan DKI Eko Bharuna mengatakan, saat ini Pemprov DKI sedang menyusun aturan untuk mewajibkan semua pengusaha menggunakan kantong plastik yang mudah terurai.
"Pemprov juga menganggarkan insentif bagi yang menerapkannya," kata Eko saat ditemui di Balaikota DKI, Senin (20/9/2010).
Hanya saja, Pemprov DKI belum menentukan jenis insentif itu. Meski demikian, lanjut Eko, setidaknya sudah ada niat baik dari pemerintah daerah untuk memberikan penghargaan bagi pengusaha yang menggunakan plastik mudah diurai.
Aturan tentang penggunaan plastik ramah lingkungan itu, kata Eko, masih menunggu diterbitkannya peraturan pemerintah yang mendukung Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Jika PP itu terbit, peraturan daerah mengenai sampah plastik akan lebih mudah disusun.
Jumlah produksi sampah plastik di DKI saat ini mencapai 523,6 ton per hari atau 7,7 persen dari total produksi sampah harian Jakarta. Sampah plastik konvensional yang sulit terurai dan didaur ulang membuat biaya pengolahan sampah menjadi mahal dan mengotori lingkungan.
Anggota Komisi D DPRD DKI, M Sanusi, mengatakan, insentif bagi para pengusaha perlu diperjelas agar mereka mau segera beralih menggunakan plastik mudah terurai tersebut. Hal itu karena harga plastik ramah lingkungan lebih mahal daripada plastik konvensional sehingga pengusaha perlu dorongan insentif.
"Dengan banyaknya pengusaha menggunakan plastik mudah diurai, produksi plastik jenis itu meningkat pula sehingga harganya akan turun mendekati harga plastik konvensional," katanya.
Menanggapi kewajiban pengusaha swalayan memakai plastik mudah terurai, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Edi Kuntadi mengatakan, pihaknya memang sedang mengampanyekan penggunaan plastik itu kepada semua pengusaha yang menjadi anggotanya.
"Para pengusaha diajak berkontribusi terhadap lingkungan dalam bisnis mereka. Konsumen yang sadar lingkungan juga akan lebih memilih bertransaksi dengan pengusaha yang ramah lingkungan," katanya.
Sekretaris Perusahaan PT Chandra Asri Suhat Miyarso mengatakan, pihaknya sudah memproduksi plastik mudah terurai yang harganya hanya 1,5 persen lebih mahal daripada plastik konvensional. Dalam waktu sampai dua tahun, plastik dengan kode produk SF5008E ini akan hancur menjadi serpihan di tanah dan dapat diurai oleh mikroba. (moe)

#1 Act - MENSPAD

Hey hoo,,
Ini langkah pertama my go green act. Karna saya wanita,,jadi ga salah dong kalo post pertama ini amat sangat sungguh kewanitaan sekali. Sejarah tentang pembalut bisa dibaca di sini, kengerian2 tentang efek dioxin di pembalut sekali pakai bisa baca di sini.
 
Perempuan normal akan mengalami periode menstruasi paling tidak 30-40 tahun seumur hidupnya. Rata-rata wanita menghabiskan 11.000 – 13.000 pembalut sekali pakai seumur hidupnya. Pembalut tersebut non-biodegradable (tidak dapat dihancurkan) dan akan menjadi beban bagi lingkungan.
 Bayangkan sodara sodara! betapa banyak sampah yg kita hasilkan seumur idup hanya dari pembalut sekali pakai. Awalnya sih kakakku mulai pake menspad,,trs aku mulai coba. Sampai sekarang sih masih mencari brand yang paling cocok.

Belum 100% pake ini sih karena masih proses mencoba,tapi aku akan terus berusaha!

Ms. Sarutobi

A shy Hi

Hey, ho
It's my first post. Today I promise to myself to make a better environment, so I decided to make post about my daily act. Really hope I can be a better person, and ofcourse we do hope our mother earth can be a better place.

Miss Sarutobi